Senin, 10 Oktober 2011

PEMEROLEHAN BAHASA ANAK


1.      Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi bagi manusia. Dengan bahasa seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain. Dengan bahasa maka akan terjadi hubungan timbal balik antara seseorang dengan orang lain. Manusia hidup dalam suatu lingkungan masyarakat. Karena dalam kehidupan manusia selalu membutuhkan orang lain. Seseorang akan mengerti apa yang dimaksudkan oleh mitra tutur dengan bahasa yang digunakan. Sehingga pesan atau informasi yang dapat tersampaikan.
 Bahasa tidak hanya tulis maupun lisan, tetapi juga bahasa tubuh dan juga ekspresi seseorang terhadap aksi yang kita lakukan. Misalnya seorang bayi yang menangis ketika lapar, bayi itu menggunakan bahasa tangis untuk memberitahukan kepada ibunya bahwa ia tengah lapar. Hal itu menujukkan pula bahwa bahasa telah ada ketika seseorang belum mengenal tulisan. Bahkan ketika seseorang belum lahir, ia sudah menggunakan bahasa. Seseorang mengenal menggunakan bahasa berdasarkan lingkungan dimana dia tinggal. Seseorang berusaha menirukan bahasa orang lain walau dengan terbata-bata. Seorang anak yang masih berusia di bawah tiga tahun, menggunakan bahasa secara belum lengkap. Hal itu karena seorang anak hanya bisa menangkap dan melafalkan sebagian dari lingual yang ia dengar.
Seseorang akan mengucapkan satuan lingual tertentu yang diperolehnya berdasarkan tempat dimana dia tinggal. Lingkungan sangat mempengaruhi hal tersebut. Daerah yang satu akan mengucapkan lingual yang berbeda dengan daerah yang lain walaupun maksud tuturannya sama. Lingkungan yang mempengaruhi bahasa seseorang tidak hanya berasal dari faktor geografis, tetapi juga faktor ekonomi, pendidikan, dan sosial agama. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi kekayaan seseorang dalam menguasai bahasa.
Menurut kridalaksana (dalam kushartanti, 2005: 3) menyebutkan bahwa bahasa adalah system tenda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para kelompok anggota masyarakat tertentu dalam bekerjasama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri.  Dengan bahasa yang sama dalam setiap kelompok masyarakat, maka seseorang akan dapat menangkap tanda yang dimaksudkan oleh mitra tutur. Berdasarkan hal tersebut dapat muncul dialek yang dapat membedakan kelompok masyarakat yang satu denga kelompok masyarakat yang lain.
Psikolinguistik merupakan salah satu cabang linguistik yang derap perkembangannya karena membuka diri pada disiplin ilmu lain sebagai alat bantu untuk mengiterpretasikan pemerolehan bahasa dan produksi bahasa, Lauder (dalam Kushartati, 2005: 236). Proses pemerolehan bahasa di otak manusia melalui beberapa tingkatan yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, wacana, semantik, dan pragmatik. Dalam produksi bahasa pada otak, terdapat kerja neurolinguistik yang merupakan rekonstruksi dalam proses kegiatan bicara, mendengar, membaca, menulis, dan bahasa isyarat.
Seorang anak kecil selalu ingin bermain dan berkumpul dengan teman-teman seusianya. Dia selalu mendengar ucapan orang lain kaemudian berupaya menirukan menirukannya. Setiap anak akan merekam dan membentuk bahasa atas dasar daya neuron motoik dalam otaknya. Setiap anak yang dilahirkan sampai menginjak kanak-kanak, akan mengalami dan melakukan kegiatan berbahasa. 

2.      Masalah
Berladaskan pada latar belakang diatas maka dapat diperoleh beberapa masalah, yaitu:
1.      Bagaimana proses pemerolehan bahasa pada anak usia 0-6 tahun?
2.      Bagaimana peran lingkungan pada proses pemeroehan bahasa?

3.      Tujuan Penulisan
Berdasarkan masalah diatas maka dapat diperoleh tujuan penulisan yaitu:
1.      Memaparkan proses pemerolehan bahasa pada anak usia 0-6 tahun.
2.      Menjabarkan peran lingkungan terhadap proses pemerolehan baha
KAJIAN TEORI
1.      Kajian Psikolinguistik
Psikolinguistik merupakan salah satu perilaku dari kemampuan manusia, sama dengan kemampuan dan perilaku untuk berpikr, bercakap-cakap, bersuara, ataupun bersiul. Lebih spesifik lagi berbahasa inni merupakan kegiatan dan proses memahami dan menggunakan isyarat komunikasi yang disebut bahasa (Chaer, 2003: 221)
Psikolinguistik membahas hubungan bahasa dengan otak dalam proses dan menghasilkan ujaran dan dalam akuisisi bahasa. Yang paling penting dalam batasan ini adalah bagaimana memproses dan menghasilkan ujaran-ujaran dan bagaimana akuisisi itu berlangsung, Hartley (dalam Pateda, 1990: 11).
2.      Pemerolehan Bahasa
Pemerolehan bahasa merupakan suatu permulaan yang tiba-tiba mendadak. Kemerdekaan bahasa mulai sekitar satu tahun disaat anak0anak mulai menggunakan kat-kata terlepas/ terpisah dari sandi linguistik untuk memncapai aneka tujuan social mereka. Pengertian lain mengatakan mengatakan bahwa pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi mesin motorik, social, dan kognitif pra-linguistik, Mc Graw (dalam Tarigan, 1998:4).
Urutan perkembangan pemerolehan bahasa menurut Tarigan (1988: 15):
1.      Perkembangan pra-linguistik
Ada kecenderungan  untuk menganggap bahwa perkembangan bahasa anak mulai tatkala dia mengatakan kata pertamanya. Beberapa perilaku bayi pada bulan pertama menyarankan bahwa anak manusia secara pembawaan lahir “diperlengkapi” buat interaksi social pada umumnya dan buat bahasa pada khususnya. Telah tetrbukti dengan baik bahwa bayi lebih menyukai wajah manusia atau gambarannya, kepada objek nyata atau gammbarnya. Pada usia dua bulan sang anak member response yang berbeda-beda terbhadap orang dan objek.
2.      Tahap satu kata
Adalah merupakan suatu dugaan umum bahwa anak pada tahap sat kata terus menerus berupaya mengumpulkan nama-nama benda dan ornag di dunia. Secara khusus kosa kata permulaan sang anak mencakup tipe kata-kata lain juga.
Menurut Lindfors (dalam Tarigan, 1988: 7) landasan dasar kognitif pemerolehan bahasa terlihat dalam 3 hal: (a) Perkembangan semantic anak. (b) Perkembangan sintakisis permulaan (yang merupakan tuturan/ ujaran gabungan permulaan). (c) Penggunaan aktif sang anak aka sejenis siasat belajar.
Pemerolehan bahasa anak-anak dapat dikatakan mempunyai cirri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit (sintaksis). Kalau kita beranggapan bahwa kegunaan fungsional tangisan sebagai awal dari kompetensi komunikatif, maka ucapan-ucapan kata tunggal yang biasanya sangat bersifat radiosinkratik atau sangat aneh (misalnya “mam” buat makan) menandai tahap pertama (yang dapat dan mudah dibedakan) perkembangan bahsa formal.  Bergerak ke arah tahap yang melebihi tahap awal ini, sang anak menghapi tugas-tugas perkembangan  yang berkaitan dengan fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik, Gracia (dalam Tarigan, 1988: 5)
 HASIL OBSERVASI
1.      Identitas Informan
No
Nama
Usia
karakteristik
1.
Muhammad Aril Sutantyo
2,5 th
rasa ingin tahu tinggi, nakal,
2.
Lestanta
2 th
Pendiam, pengertian, rasa ingin tahu tinggi
3.
Rifanta
3,5 th
Nakal, acuh, rasa ingin tahu tinggi
4.
Anisa Zahra maelani
6 th
Nakal, ingin menang sendiri, cerewet, perhatian

2.      Pemerolehan Bahasa pada Informan
a)      Tataran Fonologi
Tararan fonologi yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu:
[alel]          “Aril”                                      [dek ta]            “dek ta”
[aton]         ”Robiyatun”                            [hə?əh]                        “he’ eh” ‘iya’
[Yo?]         “Sutantyo”                              [oklat]              “coklat”
[əjo]           ”kerjo” ‘kerja’                          [alo əmεn]       “karo permen”
[Uet]          “duit”’uang’                            [uyuŋ]              “durung” ‘belum’
[Cucu]       “susu”                                      [alo sambən]    “karo sambel”
[amuk]       “nyamuk”                                [alo əndok]      “karo endog”
[Ola]          “ora” ’tidak’                            [alo ba?co]       “karo bakso”
[tεn]           “nyetel” ‘menghidupkan’        [ a? ti]              “mbak ti”
[ ayo əlog] “ayo ndelog”’ayo lihat’           [ momo]           “mobil”           
[ po a? ti]   “opo mbak Ti”                         [ae]                  “kae” ‘itu’
[es]                        “uwes”            ‘sudah’                       [Icap]               “kecap”
[Wa? api]   “[iwak sapi]”                           [əndot]                        “endog”

b)     Tataran Morfologi
Tataran morfologi yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu:
[alel]          “Aril”                                     
[aton]         ”Robiyatun”                           
[Yo?]         “Sutantyo”                             
[əjo]           ”kerjo” ‘kerja’                         
[Uet]          “duit”’uang’                                                               
[amuk]       “nyamuk”                                                                   
[tεn]           “nyetel” lihat’
[gambar templekan] ‘gambar tempel’
[ono mau] ‘ di sana tadi’
[ gon lawang] ‘ di pintu’
[cilok liwat] ‘ cilok yyang lewat’
[enak to] ‘enak kan’
[adik]
[ mau] ‘ tadi’
[ tuku]  ‘beli’
[dereng] ‘belum’
 [banyune] ‘airnya’
[ adem] ‘dingin’

c)      Tataran Sintaksis
[Ten apa ak Ti?] “lihat apa mbak ti?”
[dek ta, maem iki]” dek ta makan ini”
[ola, mboke entuk og] “ tidak, mbah boleh kok”
[enak to, adik mau tuku dewe og] “ enak lah, tadi adik beli sendiri kok”
[dereng, lha banyune adem og] “ belum, kan airnya dingin kok”
[yo ra entuk, Nensi lho sing entuk renking 1]. “ya tidak dapat, Nensi yang dapat peringkat 1”
[wong kono kuw lho, ngedi kuwi? Klegen]. “orang sana itu lho, mana itu, kalegen”
[yo apik-apik to, ra enek sing 1, ra enek sing 5. 8 ngono kuwi.] “ya bagus-baggus lah, tidak ada nilai 1, tidak ada nilai 5, 8 gitu”
[mosok sing entuk rengking mau difoto mbak]. “masak tadi yang dapat peringkat 1 difoto sama bu guru”
[yo ora to.] “ya tidak lah”
[mosok to mbak, Rifa ki nak enek wong jajan mesti njaluk ig]. “ masak ni ya mbak, Rifa itu kalau ada orang yang makan selalu minta”
[yo wegah aku, mosok njaluk terus]. “aku ya tidak mau, masak minta terus”

3.      Lingkungan Tempat Tinggal Informan
Pada lingkungan tempat tinggal informan, itu bervariasi. Namun kebanyaka dari informan beasal dari keluarga kecil menengah. Seperti pada Rifanta dan Lestanta, kakak adik ini tinggal bersama ibu dan neneknya. Ayahnya mencari nafkah di Jakarta. Kesehariannya, mereka bergaul dengan lingkunga sekitar tempat tinggal mereka dengan mengunakan bahasa yang biasa yaitu bahasa Jawa.
Sama halnya dengan Rifa, Aril pun sejak kecil hanya tinggal bersama dengan dengan neneknya dan saudaranya. Kedua orangtua Aril bekerja di Jakarta. Aril hanya mendapatkan pelajaran dari nenek. Dari cara neneknya mendidik Aril itu terhitung kasar, karena Aril sering dimarahi hanya karena masalah yang sepele. Jadi cara Aril berbahasa dan bergaul dengan teman sebayanya juga kasar.
Berbeda dengan yang lain, Nisa yang sama berasal dari keluarga kecil menengah, tinggal bersama kedua orangtuannya. Orangtuanya selalu memberikan perhatian kepadanya. Nisa juga sudah sekolah di Sekolah Dasar. Cara dia berbahasa lebih halus daripada Rifa, Lesta, dan Aril.
PEMBAHASAN HASIL OBSERVASI
Pemerolehan bahasa pada anak usia 0-6 tahun, mengalami tingkatan tataran bahasa. Mulai dari fonologi, morfologi, sintaksis, wacana, semantik, dan wacana. Namun tidak semua tataran bahasa dapat ditemukan pada anak usia 0-6 tahun. Hanya beberapa tataran saja. Lebih jelas mengenai pemerolehan bahasa anak dapat diketahui yaitu:
a.      Pemerolehan Bahasa Anak Usia 0-6 Tahun
1.      Tataran Fonologi
Berdasarkan observasi dan wawancara yang sudah dilakukan, maka diketahui bahwa tataran fonologi pada anak usia 0-6 tahun yaitu:
Dalam pengucapan fonem getar [r] yang dilafalkan oleh Aril dan Lesta tidak jelas, ada yang berubah menjadi [l], ada yang berubah menjadi [y] ada pula yang tdak diucapkan. Contohnya pada kata [urung] yang berubah menjadi [uyuŋ], atau pada kata [aril] yang diucapkan menjadi [Alel], padahal dia menyebut namanya sendiri. Mereka belum bisa melafalkan fonem getar [r].
  Dalam pengucapan fonem [s] berubah menjadi [c]. contohnya pada kata [susu] yang diucapkan oleh Aril berubah menjadi [cucu]. Kata [sapi] yang diucapkan oleh Aril pun tidak jelas, hanya diucapkan [api], Aril belum bisa melafalkan fonem [s] pada awal kata.
Pengucapan fonem [d] pada awal kata tidak jelas diucapkan, sehingga hanya diucapkan mulai fonem kedua. Misalnya pada [uyuŋ] “durung” ‘belum’ dan [uet] “duit” ‘uang’ yang diucapkan oleh Aril. Kedua kata tersebut hanya diucapkan secara jelas mulai dari fonem [u]. Aril yang masih berusia 2 tahun 6 bulan belum bisa melafalkan fonem [d] secara jelas.
Fonem [k] pada kata [karo] “dengan” , [kecap], dan [kerja] tidak dilafalkan secara jelas hanya fonem kedua yaitu [alo], [icap], dan [ejo]. Baik Aril maupun Rifanta yang masih berumur 2 th dan 2 th 6 bulan belum bisa melafalkan suatu kata secara penuh.
Fonem sengau [ny] tidak dilafalkan ketika mengucapkan kata [nyamuk] dan [nyetel]. Kedua kata tersebut hanya diucapkan [amuk] dan [tεn]. Hal tersebut menunjukkan bahwa Aril belum bisa melafalkan fonem sengau.

2.      Tataran Morfologi
Berdasarkan observasi dan wawancara yang telah dilakukan, maka dapat diketahui bahwa tataran morfologi pada anak usia 0-6 tahun yaitu:
Dalam mengucapkan sebuah kata tidak secara penuh tapi hanya morfem bagian belakangnya saja. Seperti ketika mengucapkan [Robiatun] hanya diucapkan [Atun] saja, yang diucapkan oleh Aril. Lesta juga tidak mengucapkan kata secara penuh, misalnya pada kata [permen] yang hanya diucapkan [men].
 Jika ditanya dengan pertannyaan panjang, maka jawabannya hanya satu kata saja. Anak usia 2-3 tahun mampu mengucapkan satu sampai dua morfem saja. Seperti pada kata [mau], [tuku], [dereng], dsb.  
Ujaran pada Aril dan Lesta berbentuk satu suku, yaitu suku terakhir. Misalnya pada data:
 [alel]         “Aril”                                     
[aton]         ”Robiyatun”                           
[Yo?]         “Sutantyo”                             
[əjo]           ”kerjo” ‘kerja’                         
[Uet]          “duit”’uang’                                                               
[amuk]       “nyamuk”                                                                   
[tεn]           “nyetel” lihat’
Berdasarkan data diatas tampak bahwa kata yang berpolisuku, ternyata Aril dan Lesta lebih memilih suku terakhir untuk mewakili kata yang dimaksud tanpa memperhatikan apakah kata tadipada asalnya memiliki satu sukukata atau lebih.
Pada Lesta dan Nisa sudah mulai muncul kata yang berpolimorfemik, Nampak pada data:
[gambar templekan] ‘gambar tempel’
[ono mau] ‘ di sana tadi’
[ gon lawang] ‘ di pintu’
[cilok liwat] ‘ cilok yyang lewat’
[enak to] ‘enak kan’
[adik]
[ mau] ‘ tadi’
[ tuku]  ‘beli’
[dereng] ‘belum’
 [banyune] ‘airnya’
[ adem] ‘dingin’
Bentuk kata polimorfemik yang muncul pada ujaran Rifa dan Nisa sudah muncul afiks lain seperti {e} pada kata [banyyune].

3.      Tataran Sintaksis
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan, maka dapat diketahui tataran sintaksis yang diperoleh yaitu :
Belum ditemukan tataran sintaksis pada anak usia 2-3 tahun. Rata-rata hanya pada tataran morfologi saja. Karena jika anak ditanya dengan pertanyaan yang panjang, tapi jawabannya hanya satu kata saja. Nampak pada data;
[Ten apa ak Ti?] “lihat apa mbak ti?”
[dek ta, maem iki]” dek ta makan ini”
[ola, mboke entuk og] “ tidak, mbah boleh kok”
Pada data tersebut, nampak bahwa masih ditemukan pelesapan bentuk subjek yang oleh pendengar dianggap ada pada kesadaran si pendengar. Dalam kebanyakan hal Aril dan Lesta sering melesapkan subjek kalimat. 
Tataran sintaksis ditemukan pada anak usia 6 tahun, yaitu pada Nisa yang dapat menjawab pertanyaan dengan jawaban yang melebar.
[yo ra entuk, Nensi lho sing entuk renking 1]. “ya tidak dapat, Nensi yang dapat peringkat 1”
[wong kono kuw lho, ngedi kuwi? Klegen]. “orang sana itu lho, mana itu, kalegen”
[yo apik-apik to, ra enek sing 1, ra enek sing 5. 8 ngono kuwi.] “ya bagus-baggus lah, tidak ada nilai 1, tidak ada nilai 5, 8 gitu”
[mosok sing entuk rengking mau difoto mbak]. “masak tadi yang dapat peringkat 1 difoto sama bu guru”
[mosok to mbak, Rifa ki nak enek wong jajan mesti njaluk ig]. “ masak ni ya mbak, Rifa itu kalau ada orang yang makan selalu minta”
[yo wegah aku, mosok njaluk terus]. “aku ya tidak mau, masak minta terus”
Data diatas menunjukka bahwa kalimat yang terbentuk dari ujaran Nisa yaitu kalimat kompleks. Nisa sudah menambahkan atau penghubung pada ujarannya.

4.      Tataran Semantik
Berdasarkan observasi dan wawancara yang telah dilakukan, maka dapat diketahui tataran semantik yang diperoleh yaitu:
Kadang anak mengucapkan kata yang sulit untuk dipahami maksud dari tuturan tersebut, misalnya pada saat Aril mengucapakan [momo] yang dimaksud adalah [mobil]
b.      Pengaruh Lingkungan Terhadap Pemerolehan Bahasa Anak Usia 0-6 Tahun
Seorang anak dapat berbahasa karena pengaruh lingkungan disekitarnya. Anak akan menirukan apa yang didengarnya, kemudian mencoba untuk melafalkan apa yang didengarnya tadi. Anak usia 0-6 tahun memiliki kecendurungan untuk menirukan bahasa yang didengarnya. Misalnya saja Aril yang sejak kecil hidup dengan  neneknya, dia hanya mendapatkan pelajaran dari nenek. Neneknya hanya mengajarkan sesuai apa yang dulu pernah ia dapat. Dalam berbahasa pun Aril hanya menggunakan bahasa Jawa. Terkadang neneknya melihatkan kaset CD tentang lagu anak-anak. Aril belajar dan memperoleh bahasa dari kaset-kaset yang didengarnya. Aril menirukan bahasa dari kaset yang didengarnya. Hal tersebut dilakukan karena neneknya yang hanya tamatan SD.
Rifa dan juga Laesta pun sama dengan Aril yang kadang diputarkan kaset CD berupa lagu dan kartun anak. Mereka pun memperoleh bahasa dari beberapa kaset yang mereka dengar, disamping bahasa dari orang-orang disekitarnya. Terkadang Rifa mengucapkan perkataan yang tidak selayaknya diucapkan oleh anak seusianya. Terlihat pada kata [edan] yang diucapkan oleh Rifa. Rifa mengucapkan hal demikian karena ia sering mendengar kata tersebut dari orangtuanya sendiri.
Bahasa pada Nisa lebih tertata dan sopan. Karena orangtua Nisa merupakan orang yang terpelajar, jadi apabila Nisa mengucapkan hal-hal yang kurang baik orangtuanya selalu menegornya. Apalagi Nisa sudah bersekolah, jadi Nisa banyak mendapat bahasa dari teman-teman sebayanya. Kosa kata yang dimiliki oleh Nisa pun lebih banyak. Nisa pandai menirukan bahasa yang didengarnya, baik itu lewat kaset yang didengarnya, dari ucapan teman-temanya di sekolah maupun dari ucapan gurunya di sekolah. 
 SIMPULAN
            Berdasarkan penjabaran diatas maka dapat disimpulkan bahwa:
Pemerolehan bahasa anak usia 0-6 tahun pada tataran fonologi, anak melafalkan fonem fonem seperti [r], [s], [k], [ny], [d], [c], dsb, belum jelas dan ada yang tidak dilafalkan, serta ada yang berubah fonem menjadi [u]dan [l].
Pada tataran morfologi, anak usia 2-3 tahun hanya mampu mengucapkan satu sampai dua morfem saja, dan apabila ditanya dengan kalimat panjang maka jawabannya hanya satu morfem saja. Namun pada usia 6 tahun, anak sudah menguasai kosakata yang banyak jadi pengucapannya lebih banyak.
Anak usia 2-3 tahun belum bisa menguasai tataran sintaksis. Tataran sintaksis baru ditemukan pada anak usia 6 tahun. Seperti Nisa yang mampu menguasai reportoar yang lebih banyak daripada Rifa, Lesta, dan Aril.
Dalam proses pemerolehan bahasa, lingkngan sangat berpengaruh. Keadaan sosial dan pendidikan dalam keluarga juga berpengaruh dalam proses pemerolehan bahasa anak. Hal tersebut terbukti dengan kata-kata yang diucapkan. 

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.
Dardjowidjojo, Soenjono dan Unika Atmaja. 2000. ECHA, Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta: Grasindo.
Kartono, Kartini. 1990. Psikologi Anak (psikologi Perkembangan). Bandung: Mandar Maju.
Kushartanti. 2005. Pesona Bahasa: langkah awal memhami linguistic. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-Aspek Psikolinguistik. Yogyakarta: Kanisius.
Tarigan, Henry Guntur. 1998. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Jakarta: Depdikbud.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar