Jumat, 23 September 2011

kajian Stilistika Syair Lagu Titip Rindu Buat Ayah: Karya Ebiet G Ade



A.    Latar belakang Ebiet G Ade
Abid Ghoffard Aboe Dja’afar lahir di Wanadadi, Banjarnegara, 45 tahun silam, tepatnya 21 April 1955. Pria yang kini dikenal sebagai Ebiet G Ade ini adalah seorang penyanyi dan penulis lagu yang karya-karyanya telah melegenda dan terkenal dengan balada yang syahdu dan syair-syair sarat makna dari lagu-lagu yang dibuatnya.Setelah lulus SD, Ebiet kecil melanjutkan pendidikan di PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Banjarnegara. Namun karena tidak kerasan, dirinya pindah ke Yogyakarta. Di Jogja, Ebiet bersekolah di SMP Muhammadiyah 3 dan SMA Muhammadiyah 1. Ebiet termasuk siswa berotak encer. Namun ia tidak dapat melanjutkan perkuliahan di Universitas Gajah Mada karena ketiadaan biaya. Akhirnya Ebiet memilih untuk bergabung ke sebuah grup vokal.
Nama panggilan ‘Ebiet’ tersebut ada sejarahnya. Semasa SMA, Ebiet mengikuti kursus bahasa Inggris di sekolahnya. Pada saat itu, gurunya yang orang asing memanggilnya ‘Ebid’ alih-alih ‘Abid’. Dikarenakan pelafalan bule yang berbeda dari pelafalan Indonesia (‘A’ dibaca ‘E’). Akhirnya lama kelamaan teman-temannya lebih sering memanggilnya ‘Ebiet’. Sedangkan nama ‘G Ade’ merupakan akronim dari nama lengkapnya, ‘Ghoffar Aboe Dja’afar’.
Ebiet memasuki dunia seni di Yogyakarta sejak tahun 1971. Saat itu, dirinya bersahabat dengan sejumlah seniman Jogja yang terkenal  handal bermain kata. Mereka antara lain Emha Ainun Najib (penyair), Eko Tunas (penulis cerpen) dan E.H Kartanegara (penulis). Karir awal Ebiet sebagai penyanyi adalah dengan melagukan syair-syari karya Emha Ainun Najib. Namun ketika masuk dapur rekaman, syair-syair tersebut tak lagi dibawakannya.Hal ini karena Ebiet pernah disindir oleh teman-temannya untuk membuat dan menyanyikan karyanya sendiri.
Ebiet sendiri merupakan seorang pembuat syair puisi yang handal, namun ia tak bisa berdeklamasi dengan puisi tersebut. Akhirnya ia mencari cara lain untuk membacakan puisinya tanpa harus berdeklamasi. Yakni dengan melagukannya.. Inilah cikal bakal Ebiet G Ade yang kita kenal sekarang. Ebiet lebih suka disebut penyair ketimbang penyanyi. Ia dikenal tak suka mendengarkan musik hingga sekarang.Pada awalnya, Ebiet hanya tampil di panggung-pangung seputar Jawa Tengah dan DIY saja. Awalnya hal tersebut hanya dilakukannya sebagai hobi semata, namun desakan dari para sahabatnya akhirnya membut Ebiet bersedia memasuki dunia rekaman.
Sekian lama tampil, Ebiet sempat berhenti pada tahun 1990. Selama 5 tahun dirinya tidak pernah terlihat tampil lagi di panggung musik. Pada tahun 1995, barulah ia kembali menyeruak. Dua album ditelurkannya saat itu, yakni Cinta Sebening Embun – Puisi-Puisi Cinta, dan Kupu-Kupu Kertas. Album Kupu-Kupu Kertas didukung oleh sejumlah musisi papan atas seperti Ian Antono, Billy J. Budiardjo, Purwacaraka, dan Erwin Gutawa.
Pada tahun 1996, Ebiet kembali berkarya dan mengeluarkan album bertajuk Aku Ingin Pulang15 Hits Terpopuler. Selang dua tahun kemudian, sebuah album bertajuk Gamelan dirilisnya. Album ini berisi 5 lagu lama miliknya yang diaransemen ulang dengan menggunakan alat musik gamelan. Pada tahun 2000, Ebiet lagi-lagi merilis album, bertajuk Balada Sinetron Cinta. Tak puas sampai di situ, ayah empat anak ini kembali berkarya pada tahun 2001 dengan merilis album Bahasa Langit, yang didukung sejumlah musisi seperti Andi Rianto, Erwin Gutawa dan Tohpati.
Ebiet menikah dengan Yayuk Sugianto pada tahun 1982 dan dikarunia 4 orang anak. Salah satunya adalah Abietyasakti Ksatria Kinasih yang kini menjadi manajernya.
Ebiet G. Ade telah menerima sejumlah penghargaan, antara lain:
1)      18 Golden dan Platinum Record dari Jackson Record dan label lainnya dari albumCamellia I hingga Isyu!
2)      Biduan Pop Kesayangan PUSPEN ABRI (1979-1984)
3)      Pencipta Lagu Kesayangan Angket Musica Indonesia (1980-1985)
4)      Penghargaan Diskotek Indonesia (1981)
5)      10 Lagu Terbaik ASIRI (1980-1981)
6)      Penghargaan Lomba Cipta Lagu Pembangunan (1987)
7)      Penyanyi kesayangan Siaran Radio ABRI (1989-1992)
8)      BASF Awards (1984- 1988)
9)      Penyanyi solo dan balada terbaik Anugerah Musik Indonesia (1997)
10)  Lagu Terbaik AMI Sharp Award (2000)
11)  Planet Muzik Awards dari Singapura (2002)
12)  Penghargaan Lingkungan Hidup (2005)
13)  Duta Lingkungan Hidup (2006)
14)  Penghargaan Peduli Award Forum Indonesia Muda (2006)
15)  Sejumlah penghargaan dari berbagai lembaga independen.

B.     Fungsi Style
Style ‘gaya bahasa’ adalah cara pemakaian bahasa dalam karangan, atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan, Abrams (dalam Ali Imron, 2009: 7). Fungsi gaya bahasa dalam karya sastra adalah sebagai alat untuk (Ali Imron, 2009:15-16):
1)      Meninggikan selera, artinya, dapat meningkatkan minat pembaca/ pendengar untuk mengikuti apa yang disampaikan pengarang/ pembicara.
2)      Mempengaruhi atau meyakinkan pembaca atau pendengar, artinya dapat membuat pembaca semakin yakin dan mantap terhadap apa yang disampaikan pengarang/ pembicara.
3)      Menciptakan keadaan perasaan hati tertentu, artinya dapat membawa pembaca hanyut dalam suasana hati tertentu, seperti kesan baik atau buruk, perasaan senang atau tidak senang, benci, dan sebagainya setelah menangkap apa yang dikemukakan pengarang.
4)      Memperkuat efek terhadap gagasan, yakni dapat membuat pembaca terkesan oleh gagasan yang disampaikan pengarang dalam karyanya.

C.    Tujuan Style
Tujuan stilistika adalah untuk merespon teks yang dianalisis sebagai sebuah karya sastra, dan mengobservasi bahasa karya sastra tersebut. Spitzer (dalam Leech dan Short dalam Ali Imron,2009:17) menggambarkan kedua kemampuan tersebut sebagai lingkaran siklus (cycle) yang saling mengisi, dalam bagan berikut.
Bagan 1
Lingkaran Tujuan Kajian Stilistika
 

Proses mencari fungsi estetik
 
Proses mencari bukti-bukti linguistik
 
 
 





D.    Hasil dan Pembahasan
Kajian stilistika syair lagu ‘Titip Rindu Buat Ayah’ karya Ebiet G Ade, akan dibagi dalam empat aspek yaitu gaya bunyi, gaya kata (diksi), gaya kalimat, dan citraan. Sebelumnya aakan dipaparkan syair lagu ‘Titip Rindu Buat Ayah’ karya Ebiet G Ade:
            I
(1)Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
(2)Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
(3)Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
(4)namun kau tetap tabah hm...
            II
(1)Meski nafasmu kadang tersengal
(2)memikul beban yang makin sarat
(3)kau tetap bertahan
(4)Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
            III
(1)Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
(2)Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
(3)kini kurus dan terbungkuk hm...
(4)Namun semangat tak pernah pudar
            IV
(1)meski langkahmu kadang gemetar
(2)kau tetap setia
(3)Ayah, dalam hening sepi kurindu
(4)untuk menuai padi milik kita
            V
(1)Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
(2)Anakmu sekarang banyak menanggung beban
(3)Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
(4)Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
            VI
(1)Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
(2)kini kurus dan terbungkuk hm...
(3)Namun semangat tak pernah pudar
(4)meski langkahmu kadang gemetar
    VII
(1)kau tetap setia

1.      Gaya Bunyi
Pada syair lagu, gaya bunyi dapat menimbulkan efek dan kesan tertentu. Bunyi dapat menekankan arti kata, meenginfestasikan kata dan kalimat, bahkan mendukung penciptaan suasana tertentu pada syair lagu. Gaya bunyi pada syair lagu ‘Titip Rindu Buat Ayah’ akan diungkapkan sebagai berikut:
Syair lagu tersebut secara keseluruhan didominasi oleh fonem bunyi /a/. Bunyi /a/ yang mendominasi syair lagu tersebut akan menimbulkan suasana riang, akrab, dan gembira. Bunyi /a/ yang mendominasi syair lagu tetrsebut, sengaja dipilih oleh pengarang untuk mencapai makna estetik tertentu dalam syair tersebut.
Timbulnya irama pada syair lagu tersebut karena adanya asonansi (pengulangan bunyi vokal yang sama pada rangkaian kata yang berdekatan dalam satu baris) pada tiap baris syair lagu tersebut. Misalnya yang terdapat pada bait I baris pertama syair lagu tersebut, terdapat bunyi /a/ yang mendominasi syair tersebut yaitu ‘di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa’.
Selain terdapat pengulangan bunyi vokal, syair lagu tersebut, juga terdapat pengulangan bunyi konsonan (aliterasi). Hal tersebut tampak pada bait III baris ketiga, yaitu ‘kini kurus dan terbungkuk hm…’.

2.      Gaya kata (diksi)
Diksi dapat dikatakan sebagai pilihan kata yang dilakukan oleh pengarang dalam karyanya guna menciptakan efek makna estetik tertentu. Untuk itu, pengarang tidak jarang menggunakan kata konotasi disamping kata denotasi dalam penciptaan sebuah karya. Dalam syair lagu ‘Titip Rindu Buat Ayah’ banyak memanfaaatkan kata konotasi untuk mencapai makna estetik dalam syair lagu tersebut.
Ekspresi yang dilakukan oleh pengarang secara tidak langsung dapat dilakukan melalui penggantian arti, penyimpangan arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti, Riffate (dalam Ali Imron, 2009: 152). Penggantian arti dalam syair lagu tersebut berupa metafora, simile, dan metonimia, yang kesemuanya merupakan kata-kata konotatif yang memiliki arti kias. Penyimpangan arti terjadi dengan adanya ambiguitas dan kontradiksi. Adapun penciptaan arti yang diciptakan oleh penyair dengan penggunaan bentuk visual seperti persajakan dan pembaitan.
Secara keseluruhan, dalam syair lagu ‘Titip Lagu Buat Ayah’ penyair memanfaatkan kata-kata konotatif yang memiiki arti kias. Bahasa kias tampak dominan dalam syair lagu tersebut memanfaatkan metafora, simili, dan sarana retorika hiperbola.
Bait I
Pada bait I dimanfaatkan bahasa kias berupa majas metafora pada baris kedua, /hempasan terpahat di keningmu/ yang merupakan perbandingan tanpa menggunaka kata pembanding. ‘hempasan’ sebagai wahana, sedangkan ‘terpahat dalam keningmu’ sebagai tenor. Majas hiperbola juga digunakan oleh pengarang untuk menambah nilai estetik dengan melukiskan sesuautu secara berlebihan, yaitu pada baris ketiga /keringat mengucur deras/.
Bait II
Majas metafora dimanfaatkan pada bait II terdapat pada baris pertama /nafasmu kadanng tersengal/ dan baris keempat /merah jalan ini/. Kedua baris tersebut membandingkan sesuatu tanpa kata pembanding. Pada baris pertama ‘nafasmu’ sebagai wahana ‘kadang tersengal’, sedangkan pada baris keempat ‘merah’ sebagai wahana dan ‘jalan ini’ sebagai tenor.
Majas hiperbola juga dimanfaatkan dalam bait II, yang melukiskan sesuatu yang berlebihan. Dalam hal ini, hiperbola dimanfaatkan untuk menyatakan begitu beratnya beban yang harus dipikul oleh ayah yang dilukiskan dengan /memikul beban yang makin sarat/.
Bait III
Majas metafora dimanfaatkan pada bait III pada baris pertama /keriput tulang pipimu/ dan baris kedua /legam terbakar matahari/. ‘keriput’ pada baris pertama sebagai wahana dan ‘tulang pipimu’ sebagai tenor. Sedangkan pada baris kedua, ‘ legam’ sebagai wahana dan ‘terbakar matahari’ sebagai tenornya. Majas simile juga dimanfaatkan dalam bait III pada baris pertama, /keriput tulang pipimu gambaran perjuangan/ yang merupkan perbandingan sesuatu dengan menggunakan kata pembanding sebagai, bagai, ibarat, gambaran, dll.
Bait IV
Majas metafora dimanfaatkan pada bait IV untuk melukiskan ketidak kuatnya kaki melangkah sehingga sampai gemetar. Bentuk  /langkahmu kadang gemetar/ merupakan majas metafora yang membandingkan sesuatu tanpa menggunakan kata pembanding. ‘langkahmu’ sebagai wahana, dan ‘kadang gemetar/ sebagai tenor.
Bait V
Majas metafora dimanfaatkan pada bait V pada baris keempat untuk melukiskan sangat keriput pada pipi sampai digambarkan tulangnyapun ikut keriput. Bentuk  /keriput tulang pipimu/. ‘keriput’ pada baris pertama sebagai wahana dan ‘tulang pipimu’ sebagai tenor.
Bait VI
Majas metafora dimanfaatkan pada bait VI untuk melukiskan ketidak kuatnya kaki melangkah sehingga sampai gemetar. Bentuk  /langkahmu kadang gemetar/ merupakan majas metafora yang membandingkan sesuatu tanpa menggunakan kata pembanding. ‘langkahmu’ sebagai wahana, dan ‘kadang gemetar/ sebagai tenor.

3.      Gaya kalimat
Kepadatan kalimat dan bentuk ekspresif sangat diperlukan dalam penciptaan sebuah karya. Dalam penciptaan sebuah karya berupa syair lagu merupakan inti gagasan atau pengalaman batin  yang dikemukakannya. Hanya yang penting saja yang diungkapkan. Oleh sebab itu hubungan antarkalimat dinyatakan secara implisit agar kalimat balam tiap baris pada syair sebuah lagu terkesan padat.
Pemadatan kalimat juga terdapat pada syair lagu ‘Titip Rindu Buat Ayah’. Pemadatan kalimat dengan mengimplisitkan bagian kalimat tertentu akan menjadika syair menjadi ringkas dan efektif juga mampu menciptakan suasana keakraban dan kedekatan antara penyair dengan ayahnya.
Terdapat pengulangan baris yang ditemukan walauph bukan pada tiap bait. Secara keseluruhan tiap baris pada syair lagu tersebut  merupakan kalimat yang diringkas sehingga jika bagian itu diluaskan maka aka menjadi:
            I
Di matamu (kini) masih tersimpan selaksa peristiwa (yang membekas)
Benturan (pikiran) dan hempasan(pengorbanan) terpahat di keningmu
Kau (terlihat) nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras (dikeningmu)
namun kau tetap tabah (menghadapi kehidupan ini) hm...
            II
Meski nafasmu kadang (terdengar) tersengal
(yang harus) memikul beban (hidupmu) yang makin sarat
kau tetap (saja) bertahan (menghadapinya)
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan (hidup) ini
            III
Keriput (yang terdapat pada) tulang pipimu (merupakan) gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu(Nampak) kekar,(rela kau biarka) legam terbakar matahari
kini (Nampak) kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat(yang kau tunjukkan) tak pernah pudar
            IV
meski langkahmu (terlihat) kadang gemetar
kau tetap setia (memperjuangkan kita)
Ayah, dalam hening sepi (kini) kurindu (padamu)
untuk menuai padi milik kita
            V
Tapi kerinduan(yang kurasakan) tinggal hanya kerinduan(semu)
(tahukah engkau) Anakmu sekarang banyak menanggung beban (keluarga)
Engkau telah mengerti (bagaimana) hitam dan merah jalan(hidup) ini
Keriput(yang Nampak pada) tulang pipimu gambaran perjuangan
            VI
Bahumu yang dulu (nampak kekar), (rela kau biarkan) legam terbakar matahari
kini (Nampak) kurus dan (telah) terbungkuk hm...
Namun (aku melihat) semangat tak pernah pudar
meski langkahmu (terlihat) kadang gemetar
    VII
kau tetap setia (kepada kami)

4.      Citraan
Citraan atau imaji dalam karya berperan penting untuk menimbulkan pembayangan imajinatif, membentuk gambaran mental, dan dapat membangkitkan pengalaman tertentu pada pembaca. Citraan merupakan kumpulan citra (the collection of images), yang digunakan untuk melukiskan objek dan kualitas tanggapan indera yang digunakan dalam karya sastra, baik dengan deskripsi secara harfiah maupun kias, Abram (dalam Ali Imron, 2009:75-76).
Cuddon (dalam Ali Imron, 2009: 158), menjelaskan bahwa citraan kata meliputi penggunaan bahasa untuk menggambarkan objek-objek, tindakan, perasaan, pikiran, ide, pernyataan, dan setiap pengalaman indera yang istimewa. Citraan lazimnya akan membuat kesan pikiran pembaca lebih terlibat dalam karya yang dihasilkan oleh pengarang. Pembaca akan diajak untuk merasakan apa yang dirasakan oleh pengarang. Sehingga pembaca akan lebih mudah untuk menanggapi penggambaran imaji pengarang.
Dalam syair lagu ‘Titip Rindu Buat Ayah’ penyair memanfaatkan citraan untuk menghidupkan imaji pembaca melalui ungkapan yang tidak langsung.
Bait I
(1)Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
(2)Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
(3)Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
(4)namun kau tetap tabah hm...
            Pada bait syair lagu diatas, memanfaatka citraan penglihatan  untuk melukiskan keadaan ayah dengan menggunakan kata-kata  sudah tua dan lelah yang keringatnya mengucur, sehingga tampak pahatan pada keninnya. Namun walau bagaimanapun kondisi yang dialami ayah, ayah tetap sabar. Pengaranga mengajak pembaca untuk dapat mengetahui bagaimana keadaan ayah.
II
(1)Meski nafasmu kadang tersengal
(2)memikul beban yang makin sarat
(3)kau tetap bertahan
(4)Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Bait kedua diatas, pengarang memanfaatkan citraan pendengaran untuk melukiskan perjuangan ayah dalam menghidupi keluarganya, meski nafas kadang tersengal namun ayah masih saja bertahan memikul beban ditangannya yang makin berat.
             III
(1)Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
(2)Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
(3)kini kurus dan terbungkuk hm...
(4)Namun semangat tak pernah pudar
Bait ketiga diatas memanfaatkan citraan penglihatanuntuk melukiskan bagaimana keadaan ayah yang begitu semangat untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Gambaran tuleng pipi yang keriput, serta bahu yang dulu kekar, kini kurus dan terbungkuk. Dengan majas metafora, pembaca menjadi lebih mudah membayangkan keadaan ayah yang dimaksudkan oleh pengarang.
 IV
(1)meski langkahmu kadang gemetar
(2)kau tetap setia
(3)Ayah, dalam hening sepi kurindu
(4)untuk menuai padi milik kita
Bait keempat diatas, pengarang memanfaatkan citraan gerakan untuk melukiskan gerakan langkah kaki yang gemetar pada baris pertama. Pengarang mencoba membangkitkan imaji pembaca melalui kata-kata yang digunakannya.
    V
(1)Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
(2)Anakmu sekarang banyak menanggung beban
(3)Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
(4)Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bait keempat diatas,  pengarang memanfaatkan citraan penglihatan untuk melukiskan keadaan ayah yang sudah keriput tulang pipinya. Kata-kata yang digunakan oleh pengarang bertujuan untuk membangkitkan imaji pembaca tentang kondisi ayah.
      VI
(1)Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
(2)kini kurus dan terbungkuk hm...
(3)Namun semangat tak pernah pudar
(4)meski langkahmu kadang gemetar
       VII
(1)kau tetap setia
Bait keenam dan ketujuh diatas, pengarang memanfaatkan citraan penglihatan untuk melukiskan keadaan ayah yang dulu begitu gagah yang ditunjukkan dengan kata bahumu yang dulu kekar namun kiki kurus dan terbungkuk. Bait diatas juga memanfaatkan citraan gerak yang melukiskan langkah kaki yang kadang gemetar yang menunjukkan begitu rapuhya ayah kini.


E.     Kajian Makna Stilistika Syair Lagu ‘Titip Rindu Buat Ayah’
Style ‘gaya bahasa’ merupakan sistem tandatengkat pertama dalam konvensi sastra. Sebagai sebuah system tanda maka gaya bahasa pada syair lagu ‘Titip Rindu Buat Ayah’ juga mempunyai makna yang menjadi sarana sastra untuk mengungkapkan gagasan pengarang.
Makna dalam sebuah karya merupakan rangkaian gagasan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Pengarang dapat mengungkapkannya secara implisit maupun eksplisit gagasan dalam setiap karyanya.
Secara keseluruhan, syair lagu ‘Titip Rindu buat Ayah’ diatas mengandung makna yang menunjukka begitu dekat dan rindunya pengarang kepada sosok ayah dalam hidupnya. Betapa pengarang begitu memperhatikan ayah, sehingga pengarang dapat menggambarkan begitu detail keadaan ayah. Kenangan bersama ayah begitu membekas. Bagaimana perjuangan ayah dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.
Kerinduan yang dialami oleh pengarang kepada ayah yang begitu mendalam hanyalah tingal kerinduan yang tiada berarti. Karena ayah yang penuh dengan perjuangan dan beban yang begitu besar ditanggungnya, kini menjadi tanggungjawabnya kerena ayahnya yang telah tiada. Hal tersebut tampak pada bait kelima baris pertama dan kedua:
Tapi kerinduan hanya tinggal kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban
Penggambaran pada kedua baris tersebut melukiska begitu anak dapat merasakan apa yang dulu dirasakan oleh ayahnya. Kini anaknya yang ahrus menanngung beban keluarganya.  Namun semua kenangan bebrsama ayah tidak dapat dilupakan oleh anaknya. Bagaimana perjuangan ayah melawan terik matahari yang membakar tubuhnya, bagaimana keringat itu mengalir. Namun ayah yang begitu tabah dan setia. Ditunjukkan pada bait pertama syair lagu tersebut:
Benturan dan hempasan terpahat dikeningmu
Kau Nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah
Keriduan yang mendalam juga dirasakan oleh pengarang ketika berada dalam sepi. Kenangan dulu bersama ayah ketika menuai padi bersama. Namun kerindua itu hanya kerinduan semu. Ayah yang telah banyak pengalaman dalam kehidupan membagi dengan anaknya. Sehingga anak yang ketika ditinggal oleh ayahnya tidak kaget menghadapi ujian dalam kehidupannya. Pengalaman ayah ditunjukkan pada bait kelima:
Bait IV
Ayah, dalam sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
bait V
engkau telah mengarti hitam dan putih jalan ini
keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Melalui kata yang dituliskan pengarang dalam tiap barisnya menunjukkan begitu rindunya seorang anak kepada ayahnya. Kata-kata yang dipilihnya menggambarkan keriduan yang tersirat.
 
F.     Simpulan
Berdasarkan kajian stilistika syair lagu ‘Titip Rindu Buat Ayah’, dapat disimpulkan bahwa syair lagu tersebut merupakan syair lagu yang tidak seperti syair lagu pada umumnya. Pada syair lagu tersebut pengarang memilih kata-kata yang tidak biasa, karena penuh dengan majas. Kalimat yang dipilihnyapun padat dan penuh dengan makna.  Pengarang juga mencoba mengajak pembaca ikut melihat dan merasakan bagaimana gambaran seorang ayah melalui pemilihan kata dengan melibatkan citraan tertentu. 




DAFTAR PUSTAKA
Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2009. Stilistika Teori, Metode, dan Aplikasi Pengkajian Estetika Bahasa. Solo: Cakra books.














KAJIAN STILISTIKA SYAIR LAGU ‘TITIP RINDU BUAT AYAH’ KARYA EBIET G ADE

Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Stilistika
     Dosen Pengampu: Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M.Hum.


UMS


Oleh :

SITI RUQOYYAH
A310 080 053

PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
201

 
1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar